BAB 10
SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI NUSANTARA
Islam datang ke Indonesia melalui proses yang
panjang. Tahukah kalian siapa yang membawa Islam sampai ke Nusantara? Darimana
sebenarnya awal mula agama Islam tersebut? Lalu bagaimana pula caranya hingga
Islam bisa sampai ke Nusantara pada bab ini kita akan belajar mengenai sejarah
perkembangan Islam di Nusantara.
A. Sejarah Masuknya Islam di Nusantara
Islam datang ke Nusantara melalui perdagangan,
sosial, dan pengajaran. Berdasarkan berita Cina dari zaman Dinasti Tang, Islam
masuk ke Indonesia sekitar abad ke-7. Berita itu menyebutkan adanya serangan
orang-orang Ta shish terhadap Kerajaan Ho-Ling yang pada waktu itu diperintah
oleh Ratu Sima. Ta shih ini ditafsirkan sebagai orang-orang Arab. Hal itu
diperkuat oleh berita Jepang (784 M) yang menyebutkan tentang adanya perjalanan
pendeta Kanshih. Pendapat yang menyatakan Islam masuk ke Nusantara sekitar abad
ke-13 didasarkan pada berita Marcopolo (1292 M) dan berita Ibnu Battutah (abad
ke-14). Adanya batu nisan makam Sultan Malik As Saleh (1297), penyebar-an
ajaran tasawuf (abad ke-13), dan keruntuhan Dinasti Abbasiyah (1258 M). Dari
bukti-bukti itu dapat disimpul-kan bahwa Islam sudah masuk ke Indonesia sekitar
abad ke-7 Masehi yang mencapai perkembangannya pada abad ke-13. Hal itu
ditandai dengan adanya kerajaan-kerajaan bercorak Islam di Indonesia.
1. Proses Masuknya Islam di Nusantara
Bagaimana Islam dapat tersebar di Nusantara?
Berikut beberapa cara yang digunakan sehingga Islam tersebar di Nusantara.
a. Perdagangan
Menurut berita Cina, agama Islam disebarkan
oleh orangorang Arab. S.Q. Fatimi dalam bukunya Islam Comes to Malaysia
mengemukakan bahwa Islam berasal dari Benggala. Snouck Hurgronye berpendapat
bahwa Islam disebarkan ke Indonesia oleh para pedagang muslim dari Gujarat
(India). Menurutnya, Islam tidak disebarkan langsung dari Arab. Hubungan
langsung antara Arab dan Indonesia baru berlangsung abad ke-17, yaitu pada masa
kerajaan Samudera Pasai, Banten, Demak, dan Mataram Baru. Pendapatnya itu
diperkuat oleh bukti adanya kesamaan unsurunsur Islam di Indonesia dan di
India. Selain itu, adanya ceritacerita tentang nabi-nabi di Indonesia yang
berbeda dengan langgam Arab, tetapi bergaya India. Mengenai golongan masyarakat
pembawa Islam ke Indonesia, para ahli umumnya sependapat, yaitu kaum pedagang.
Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa penyebaran Islam dilakukan melalui
perjalanan lalu lintas perdagangan dan pelayaran.
b. Pengajaran
Dalam agama Islam setiap muslim adalah
pendakwah. Baru kemudian pada masa-masa berikutnya terdapat mubalig dan guru
agama Islam, yang tugasnya khusus mengajarkan agama Islam. Mereka ini
mempercepat proses Islamisasi, sebab mereka mendirikan pesantren dan mencetak
kader-kader ulama/guru-guru agama Islam.
c. Sosial
Selain golongan pembawa, ada pula golongan
penerima Islam. Terdapat dua penerima Islam, yaitu golongan elite (rajaraja,
bangsawan, dan para pengusaha) dan golongan non elite (lapisan masyarakat
biasa). Golongan elite lebih cepat mengalami proses Islamisasi, karena
kedudukannya yang mempunyai pengaruh di kalangan masyarakat biasa. Proses
Islamisasi ada beberapa jalan, yaitu melalui perdagangan, perkawinan,
pendidikan, tasawuf, dan kesenian. Islamisasi lewat saluran perdagangan terjadi
pada tahap awal, yakni sejalan dengan kesibukan lalu lintas perdagangan (antara
abad ke-7 sampai abad ke-16). Banyaknya pedagang muslim yang bermukim
diIndonesia, terbentuklah tempat-tempat pemukiman yang disebut Pekojan. Di
antara pedagang muslim asing itu, ada pula yang menetap lalu menikah dengan
wanita pribumi. Proses Islamisasi melalui kesenian tampak dari bukti-bukti
peninggalan sejarah, seperti ukiran, pintu gerbang, makam, tradisi sekaten,
pertunjukan wayang, debus, tarian, dan sebagainya. Penyebaran Islam melalui
seni wayang, sastra, debus, tarian, tradisi sekaten, ternyata lebih mempercepat
proses islami-sasi. Sampai sekarang proses islamisasi melalui saluran seni
masih berlangsung.
2. Proses Penyebaran Islam di Nusantara
Tahukah kamu bagaimana proses dan siapa saja
yang berjasa terhadap penyebaran Islam di Indonesia? Berikut merupakan beberapa
pihak yang berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia.
a. Ulama Di Pulau Jawa dikenal adanya Wali Sembilan (Wali Songo) yang
merupakan tokoh-tokoh ulama penyebar agama Islam. Bagaimana peranan Wali Songo dalam
penyebaran agama Islam? Wali Songo adalah ahli agama yang dekat kepada Allah
swt., mempunyai tenaga gaib, tenaga batin, dan menguasai ilmu yang tinggi.
Kesembilan wali tersebut mempunyai gelar Sunan, yaitu Sunan Gresik, Sunan
Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus,
Sunan Muria, dan Sunan Gunungjati. Pemberian gelar itu didasarkan pada tempat
mereka dimakamkan, seperti Gunung Jati di Cirebon, Drajat di dekat Tuban, Giri
di Gresik, dan sebagainya. Berikut ini akan dijelaskan lebih jauh tentang
sejarah kiprah para anggota Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di
Indonesia.
1) Sunan Gresik
Sunan Gresik nama aslinya adalah Maulana Malik
Ibrahim atau lebih dikenal dengan sebutan Maulana Magribi. Para ahli sejarah
menduga bahwa Maulana Malik Ibrahim berasal dari Maroko. Tanggal lahirnya belum
banyak diketahui orang. Hanya tahun wafat dan pemakamannya yang dapat diketahui
yaitu wafat pada tanggal 8 April 1419 dan dimakamkan di Pekuburan Gapura Wetan,
Gresik. Selama hidupnya, beliau dikenal sebagai orang yang sangat ahli di
bidang agama Islam. Ia sangat pandai dalam menarik simpati masyarakat Jawa yang
ketika itu pada umumnya masih memeluk agama Hindu dan Budha. Dengan cara yang
dilakukannya itu, dakwah-dakwahnya banyak diminati orang.
2) Sunan Ampel
Nama asli Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Ia
adalah putra Maulana Malik Ibrahim dari istrinya yang bernama Dewi Candrawulan.
Beliau dikenal sebagai penerus ayahnya yang gigih dalam menyiarkan agama Islam
di Ampel Denta, Surabaya. Berbeda dengan ayahnya, Raden Rahmat menggunakan
pondok pesantren sebagai sarana penyebaran agama Islam. Ia mendirikan pondok pesantren
yang pertama di Ampel Denta, Surabaya. Dipesantren inilah ia banyak mendidik
para pemuda Islam untuk disebarkan ke seluruh pelosok pulau Jawa. Di antara
murid-muridnya yang kemudian tampil sebagai tokoh agama Islam antara lain Raden
Paku yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Giri, Raden Patah yang menjadi
raja di kerajaan Islam Demak, Raden Makdum Ibrahim (putra Sunan Ampel sendiri)
yang dikenal sebagai Sunan Bonang, Syarifuddin yang dikenal sebagai Sunan
Drajat, dan banyak lagi. Menurut Babad Diponegoro, Sunan Ampel sangat
berpengaruh di kalangan Istana Majapahit. Ia dikenal sebagai pelopor kerajaan
Islam pertama di pulau Jawa, yaitu Demak. Dialah yang mengangkat Raden Patah
sebagai Sultan Demak pertama. Sunan Ampel juga dikenal sebagai pendiri Masjid
Agung Demak, yang dibangun tahun 1479. Sunan Ampel wafat pada tahun 1481 dan
dimakamkan di Surabaya.
3) Sunan Bonang
Sunan Bonang nama aslinya adalah Makdum
Ibrahim, atau Raden Ibrahim. Makdum adalah gelar untuk seorang ulama besar,
yang berarti orang yang dihormati. Ia putera Sunan Ampel, dari perkawinannya
dengan Dewi Candrawati. Dari perkawinannya dengan Dewi Hiroh, ia memperoleh
seorang puteri bernama Dewi Rukhil, yang kemudian diperistri oleh Sunan Kudus.
Setelah belajar agama Islam di Pasai, Aceh. Sunan Bonang kembali ke Tuban, Jawa
Timur untuk mendirikan pondok pesantren. Santri-santri yang belajar kepadanya
datang dari berbagai pelosok Nusantara. Dalam menyebarkan agama Islam ia selalu
menyesuaikan dengan corak kebudayaan Jawa. Ia menggunakan pertunjukan wayang
sebagai media dakwahnya. Lagu gamelan wayang berisikan pesan-pesan ajaran agama
Islam. Setiap bait lagu diselingi Syahadatain (ucapan dua kalimat sahadat).
Kegiatan dakwah Sunan Bonang dipusatkan di daerah Tuban. Pesantrenya dijadikan
basis tempat mendidik para santrinya. Sunan Bonang memberikan pendidikan agama
Islam secara khusus dan mendalam kepada Raden Patah, putra raja Majapahit Prabu
Brawijaya V, yang kemudian menjadi sultan Demak. Catatan pendidikannya kini
disebut Suluk Sunan Bonang, atau Primbon Sunan Bonang, yang sampai sekarang
masih tersimpan di Universitas Laiden, Negeri Belanda. Sunan Bonang wafat pada
tahun 1525 dan dimakamkan di Tuban, Surabaya.
4) Sunan Giri
Sunan Giri nama aslinya adalah Raden Paku,
atau Prabu Satmata, dan sering disebut juga Sultan Abdul Fakih. Beliau adalah
putera Maulana Ishak yang ditugasi Sunan Ampel untuk menyebarkan agama Islam di
daerah Blambangan. Ia juga bersaudara dengan Sunan Gunung Jati dan Raden Patah,
karena istri mereka bersaudara. Ia belajar agama Islam di pesantren Sunan Ampel
dan berteman baik dengan Sunan Bonang. Sunan Giri dikenal sebagai pejuang Islam
yang gigih. Ia menggunakan pesantren dan cara dakwah untuk menyebarkan agama
Islam. Para santrinya ditugasi untuk berdakwah ke berbagai daerah di Pulau
Jawa, Pulau Madura, Bawean, dan Tidore. Sunan Giri wafat pada tahun 1600-an dan
dimakamkan di bukit Giri, Gresik.
5) Sunan Drajat
Sunan Drajat nama aslinya Raden Kasim atau
Syarifuddin, dan disebut juga Sunan Sedayu. Menurut silsiah, Sunan Drajat
adalah putera Sunan Ampel dari istri kedua bernama Dewi Candrawati. Ia
mempunyai saudara seayah dan seibu, yaitu Siti Syareat, Siti Mutmainah, Siti
Sofiah (istri Sunan Malaka), dan Sunan Bonang. Ia juga mempunyai dua saudara
seayah lain ibu, yaitu Dewi Murtasiyah (istri Sunan Giri). Istri Sunan Drajat,
Dewi Sifiyah, adalah puteri dari Sunan Gunung Jati. Dalam menyiarkan agama
Islam, ia menggunakan media dakwah dan mendirikan pesantren. Ia dikenal sebagai
orang yang baik hati dan suka memberikan pertolongan kepada masyarakat, seperti
menyantuni anak yatim dan fakir miskin. Sunan Drajat wafat pada pertengahan
abad ke-16 dan dimakamkan di Sedayu, Gresik.
6) Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga nama aslinya adalah Raden Mas
Syahid dan sering dijuluki Syekh Malaya. Nama Kalijaga konon berasal dari
bahasa Arab, Qadizaka, yang artinya pelaksana dan pembersih. Qadizaka yang
karena lidah dan ejaan kemudian menjadi Kalijaga, berarti pelaksana yang
menegakkan kebersihan atau kesucian. Ayahnya bernama Raden Sahur Tumenggung Walatikta
yang menjadi Bupati Tuban, sedang ibunya bernama Dewi Nawang Rum. Berbeda
dengan wali-wali lainnya, Sunan Kalijaga berdakwah dengan cara berkeliling dari
satu daerah ke daerah lainnya. Berkat kepandaiannya dalam berdakwah yang selalu
logis dan masuk akal, banyak kaum bangsawan, pengusaha, kaum intelektual
lainnya bersimpati kepadanya. Bahkan, Raden Patah sebagai Sultan Demak sangat
menghargai pendapat dan nasihat-nasihatnya. Ia kemudian diangkat sebagai juru
dakwah kerajaan Demak. Dalam berdakwah ia mengarang cerita wayang purwa dan
wayang kulit yang bernafaskan Islam. Jasa Sunan Kalijaga terhadap kesenian
tidak hanya pada seni wayang, tetapi juga pada seni suara, ukir, seni pahat,
seni busana, dan kesusastraan. Sunan Kalijaga wafat pada pertengahan abad ke-15
dan dimakamkan di Kadilangu, Demak.
7) Sunan Kudus
Sunan Kudus nama aslinya Ja’far Sadiq, tetapi
ketika kecil ia dipanggil Raden Untung. Ia sering juga dipanggil Raden Amir
Haji, karena ketika berangkat haji bertindak sebagai kepala rombongan (amir).
Ayahnya bernama Raden Usman Haji yang menyebarkan agama Islam di Jipang,
Panolan, Blora, Jawa Tengah. Sunan Kudus dikenal sebagai sunan yang paling
banyak ilmu agamanya. Diantara Walisongo, hanya dia yang mendapat julukan wali
al’ilmi, artinya orang yang luas ilmunya. Karena kepandaiannya itulah maka
banyak santri-santri yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Selain
sebagai juru dakwah, Sunan Kudus juga sebagai panglima Angkatan Perang Kerajaan
Islam Demak yang tangguh. Menurut cerita, Sunan Kudus pernah berlayar ke Baitul
Makdis di Palestina dan berjasa memberantas penyakit yang menelan banyak korban
jiwa di sana. Sekembalinya ke pulau Jawa ia mendirikan sebuah masjid di Loran
pada tahun 1549. Mesjid itu diberi nama Masjid al-Aqsa atau al-Manar, artinya
masjid menara Kudus. Daerah sekitarnya pun diganti nama menjadi Kudus. Nama ini
diambil dari sebuah nama kota di Palestina, yaitu al Quds. Dalam melaksanakan
kegiatan dakwah, ia melakukan dengan pendekatan budaya. Hal itu terbukti dengan
diciptakannya berbagai cerita yang bernafaskan keagamaan, seperti Gending
Maskumambang dan Mijil. Sunan Kudus wafat pada tahun 1550 dan dimakamkan di
daerah Kudus, Jawa Tengah.
8) Sunan Muria
Sunan Muria nama aslinya adalah Raden Umar
Said atau Raden Said, sedangkan nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Namun, ia
lebih dikenal dengan sebutan Sunan Muria, karena pusat kegiatan dakwahnya dan
makamnya terletak di Gunung Muria, 18 km sebelah utara kota Kudus sekarang.
Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga. Ia sangat berjasa dalam penyebaran
agama Islam di desa-desa terpencil di daerah gunung Muria. Ia tekun mendidik
rakyat agar menjalankan ajaran Islam. Dalam rangka dakwahnya ia menciptakan
tembang Sinom dan Kinanti yang beranfaskan Islam. Sunan Muria wafat pada abad
ke-16 dan dimakamkan di bukit Muria, Jepara.
9) Sunan Gunungjati
Sunan Gunungjati yang nama aslinya adalah
Syarif Hidayatullah adalah cucu raja Pajajaran, Prabu Siliwangi. Perkawinan
Prabu Siliwangi dengan Nyai Subang Larang melahirkan dua putera dan satu
puteri, yaitu Raden Walangsungsang, Nyai Lara Santang dan Raja Senggara.
Setelah ibunya wafat, Raden Walangsungsang meninggalkan keraton untuk belajar
agama Islam kepada Syekh Datu Kahfi (Syekh Nurul Jati) di Gunung Ngamperan
Jati. Demikian pula adik perempuannya, Nyai Lara Santang menyusul belajar agama
Islam di sana. Setelah tiga tahun belajar agama Islam, keduanya diperintahkan
gurunya untuk melaksanakan ibadah haji ke Mekah. Di Mekah Nyai Lara Santang
mendapat jodoh yaitu Maulana Sultan Mahmud (Syarif Abdullah), seorang bangsawan
Arab dari Bani Hasyim. Raden Walangsungsang setelah menunaikan ibadah haji
kembali ke Jawa dan menjadi juru labuhan di Pasambangan (Cirebon). Sementara
itu, Nyai Lara Santang melahirkan Syarif Hidayatullah pada tahun 1448 M.
Setelah dewasa Syarif Hidayatullah memilih
berdakwah di pulau Jawa daripada di negeri Arab. Ia kemudian menemui Raden
Walangsungsang yang sudah bergelar Cakrabuwana. Setelah pamannya wafat, ia
menggantikan pamannya menyebarkan agama Islam di Cirebon dan berhasil
menjadikan Cirebon sebagai kesultanan yang bebas dari kerajaan Pajajaran. Dari
Cirebon inilah ia kemudian menyiarkan agama Islam ke daerah-daerah di Jawa
Barat yang belum memeluk agama Islam, seperti Majalengka, Kuningan, Kawali
(Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Di Banten itulah ia berhasil menjadikan
Banten sebagai kerajaan Islam pada tahun 1525.
Ketika kembali ke Cirebon ia menyerahkan
Kesultanan Banten kepada anaknya, Sultan Maulana Hasanuddin yang kemudian
menurunkan raja-raja Banten. Di tangan raja-raja Banten inilah Kerajaan
Pajajaran dikalahkan dan rakyatnya di Islamkan. Bahkan Syarif Hidayatullah
melakukan penyerangan ke Sunda Kelapa. Penyerangan itu dipimpin oleh
Fatahillah, seorang Panglima Angkatan Perang Kerajaan Demak. Fatahillah
kemudian menjadi menantu Syarif Hidayatullah. Syarif Hidayatullah wafat pada
tahun 1570 dan dimakamkan di daerah Gunungjati, Desa Asatana, Cirebon. Itulah
sebabnya, ia dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati sampai sekarang.
b. Peranan Perdagangan
Penyebaran Islam ke daerah Maluku berhubungan
dengan perdagangan antara Malaka, Jawa, dengan Maluku. Islam masuk ke Maluku
sekitar abad ke-13. Menurut sumber tradisi, penyebaran Islam dilakukan oleh
Maulana Husayn pada masa pemerintahan Marhun di Ternate. Menurut hikayat Tanah
Hitu disebutkan bahwa raja pertama yang memeluk agama Islam di Maluku adalah
Zainal Abidin (14861500). Konon menurut berita Zainal Abidin belajar agama
Islam pada Pesantren Giri. Proses islamisasi di Kalimantan Selatan diketahui
dari Hikayat Banjar. Proses Islamisasinya ditandai oleh terjadinya perpecahan
di kalangan istana, antara Pangeran Tumenggung dengan Raden Samudera. Pangeran
Tumenggung adalah raja Dipa dan Daha yang bercorak Hindu. Untuk menaklukkan
Pangeran Tumenggung, Raden Samudera meminta bantuan Kerajaan Demak dengan
perjanjian bersedia masuk Islam. Berkat bantuan dari Demak, Pangeran Tumenggung
dapat dikalahkan. Sejak saat itu, Kerajaan Banjar bercorak Islam. Rajanya,
Raden Samudera bergelar Sultan Suryanullah.
Menurut Hikayat Kutai bahwa proses Islamisasi
di Kalimantan Timur berlangsung damai. Disebutkan bahwa penyebar Islam di Kutai
adalah Tuan Ri Bandang Tuan Tunggang Parangan pada masa pemerintahan raja
Mahkota. Raja Mahkota masuk Islam karena merasa kalah kesaktiannya. Menurut
Hikayat Gowa-Tallo dan Wajo bahwa penyebaran Islam di Sulawesi berjalan secara
damai. Penyebarnya adalah Dato’ri Bandang dan Dato’ Sulaeman. Kerajaan Islam
Gowa kemudian menaklukkan kerajaan Soppeng, Wajo, dan Bone yang raja-rajanya
segera memeluk agama Islam pada tahun 1611.
3. Peranan Pendidikan
Pendidikan juga memegang peranan dalam proses
Islamisasi. Guru-guru agama, dan pondok-pondok pesantren, dan para santrinya
pranata pendidikan Islam. Semakin terkenal kyai (guru agama Islam) yang
mengajarnya, semakin terkenal pula pesantrennya. Pada masa pertumbuhan Islam
dikenal adanya Pesantren Ampel Denta milik Sunan Ampel (Raden Rakhmat) dan
Pesantren Sunan Giri (yang murid-muridnya datang dari berbagai daerah).
Raja-raja dan kaum bangsawan mendatangkan guru agama Islam sebagai penasihat
agama. Di daerah Banten dikenal Kyai Dukuh (Pangeran Kanyusatan) sebagai guru
agama Maulana Yusuf. Syekh Maulana Yusuf adalah penasihat agama Sultan Ageng
Tirtayasa. Ki Ageng Sela adalah guru Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya) dan Juru
Mertani sebagai penasihat Panembahan Senopati.
4. Peranan Perkawinan
Islamisasi melalui perkawinan pengaruhnya
lebih besar, jika yang melakukan perkawinan itu dari keluarga yang berpengaruh
(golongan bangsawan dan penguasa). Misalnya, perkawinan antara Putri Campa
dengan Putra Brawijaya, atau antara Sunan Ampel dengan Nyi Gede Manila (seperti
yang dikisahkan dalam babad Tanah Jawa). Dalam Babad Cirebon, disebutkan
tentang perkawinan antara Putri Kawungaten dengan Sunan Gunung Jati. Babad
Tuban menyebutkan tentang perkawinan Putri Aria Dikara, yaitu Raden Ayu Teja
dengan Syekh Ngabdurakhman. Perkawinan antara kaum bangsawan tersebut kemudian
melahirkan terbentuknya kerajaankerajaan bercorak Islam di Indonesia.
B. Kerajaan Islam di Nusantara
Berikut ini dijelaskan sejarah pertumbuhan
kerajaan Islam dan pengaruh kebudayaanya terhadap masyarakat Indonesia.
1. Kerajaan Samudra Pasai Kerajaan Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama
di Indonesia. Hal ini terbukti dari peninggalannya berupa bekas keraton, batu
nisan, masjid, kesusastraan, dan sebagainya. Di bekas daerah Samudra Pasai banyak
ditemukan makam raja Islam, seperti makam Sultan Malik al-Saleh, yang meninggal
pada bulan Ramadhan tahun 676 M. Jirat-jirat di pemakaman raja Samudera Pasai
didatangkan dari India. Istana disusun dan diatur secara budaya India. Diantara
para pembesarnya terdapat orang-orang Persia (Iran). Bahkan, patihnya bergelar
Amir. Dengan demikian, kebudayaan Islam pada masa kerajaan Samudra Pasai telah
berkembang cukup pesat.
2. Kerajaan Aceh Kerajaan Aceh muncul setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis.
Masa kejayaan Kerajaan Aceh tercapai dalam pemerintahan Sultan Iskandar Muda.
Seni sastranya dalam kebudayaan masyarakat Aceh dipengaruhi oleh budaya agama
Islam. Rakyat Aceh terutama kaum ulamanya gemar menulis buku kesusastraan.
Misalnya, Nuruddin ar-Raniri menulis buku Bustanus Salatin dan Hamzah Fansuri
menulis Syair Perahu, Syair Burung Pingai, dan Asrar al Arifin. Selain itu,
hasil-hasil kebudayaan masyarakat Aceh dipengaruhi oleh lingkungan alamnya,
yaitu sungai dan lautan. Rakyat Aceh pandai membuat perahu dan kapal-kapal
layar. Dengan demikian, tampaklah bahwa masyarakat kerajaan Aceh dipengaruhi
oleh budaya Islam.
3. Kerajaan Demak Kebudayaan masyarakat Demak bercorak Islam yang terlihat
dari banyaknya masjid, makam-makam, kitab suci Al-Qur’an, ukir-ukiran berlanggam
(bercorak) Islam, dan sebagainya. Sampaisampai sekarang Demak dikenal sebagai
pusat pendidikan dan penyebaran agama Islam di Jawa Tengah. Bahkan, dalam
sejarah Indonesia, Demak dikenal sebagai pusat daerah budaya Islam di Pulau
Jawa.
4. Kerajaan Mataram Sebagai kerajaan Islam, hasil budaya masyarakat Kerajaan
Mataram diwarnai oleh agama Islam. Salah satu hasil budaya Kerajaan Mataram
adalah penanggalan (almanak) Jawa. Almanak Jawa ini merupakan hasil karya dari
Sultan Agung. Almanak ini diberlakukan pada tahun 1633 M, dengan menetapkan
bahwa pada tanggal 1 Muharam 1043 H sama dengan tanggal 1 Muharam 1555 tahun
Jawa. Jadi jika disesuaikan dengan penanggalan Masehi, maka tanggal di atas
sama dengan tanggal 8 Juli 1633.
Dengan demikian, almanak Jawa adalah perpaduan
dari penanggalan Saka (Hindu) dan penanggalan Hijriyah (Islam). Hasil budaya
masyarakat Mataram Baru yang masih ada sekarang adalah adanya tradisi Sekaten
di Yogyakarta dan Cirebon yang dirayakan pada setiap perayaan Maulid Nabi
Muhammad saw. Peninggalan Keraton di Yogyakarta dan di Surakarta yang sampai
sekarang masih berjalan, yaitu berupa kesultanan lengkap dengan fasilitas
peninggalan zaman Mataram baru.
5. Kesultanan Cirebon Perpecahan dan kemunduran politik Kesultanan Cirebon
pada awal abad ke-18 ternyata tidak mengurangi wibawa Cirebon sebagai pusat
agama Islam di Jawa Barat. Demikian pula kehidupan sosial tetap berkembang
dengan baik. Peranan histories keagamaan yang dipelopori oleh Sunan Gunung Jati
tak pernah hilang dalam kehidupan masyarakat Cirebon. Kegiatan dan pendidikan
dan penyiaran agama Islam pada zaman VOC dapat berjalan terus. Demikian pula di
bidang budaya tetap berkembang subur.
Dalam abad ke-17 di keraton-keraton Cirebon
berkembang kegiatan sastra, seperti suluk, kakain, dan naskah-naskah kuno
lainnya. Demikian pula dalam bidang seni bangunan dan seni kaligrafi berkembang
cukup baik. Keraton dan masjid-masjid peninggalan Sunan Gunung Jati tetap
dipertahankan sekalipun di bawah pengaruh kekuasaan Hindia Belanda. Bahkan sampai
sekarang hasil budaya masyarakat Kesultanan Cirebon, seperti keraton, masjid,
pondok pesantren, naskah-naskah kuno, tradisi Panjang jimat, dan lain-lain
masih tetap dipelihara dengan baik.
6. Kesultanan Banten Kejayaan Kesultanan Banten pada masa lalu tampak dari
peninggalan-peninggalannya, seperti Masjid Agung Banten yang didirikan pada
masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin. Masjid ini mempunyai ciri
arsitektur yang merupakan perpaduan antara seni bangunan Jawa dan Barat. Di
halaman selatan masjid terdapat bangunan Tiamah, yang merupakan bangunan
tambahan yang dibuat oleh Hendrik Lucasz Cardeel, seorang arsitek kebangsaan
Belanda. Dahulu Tiamah ini digunakan sebagai tempat majlis taklim serta tempat
alim ulama Banten bermusyawarah tentang soal-soal agama Islam. Selain masjid
tadi, di Kasunanan terdapat masjid yang umurnya lebih tua dari Masjid Agung
Banten. Di masjid inilah Kyai Dukuh tinggal dan mengajarkan agama Islam. Kyai
Dukuh ini bergelar Pangeran Kasunyatan, guru Maulana Yusuf, Sultan Banten yang kedua.
Bangunan lainnya yang membuktikan kemegahan
Kesultanan Banten yang kedua adalah bekas Keraton Surosowan yang dikelilingi
oleh tembok benteng tebal, luasnya 4 hektar, berbentuk empat persegi panjang.
Benteng tersebut sampai sekarang masih tegak berdiri. Dalam situs (daerah,
lahan) kepurbakalaan Banten ditemukan beberapa peninggalan Kesultanan Banten,
antara lain Menara Masjid, Mesjid Pacinan Tinggi, Benteng Speelwijk, Meriam Ki
Amuk, Watu Gilang, dan Pelabuhan perahu Karangantu. Semua itu merupakan peninggalan
budaya masyarakat Kesultanan Banten pada masa jayanya dahulu.
7. Kerajaan Gowa-Tallo Hasil kebudayaan masyarakat Makasar dipengaruhi oleh
lingkungannya yang dikelilingi lautan. Hasil budaya rakyat Makasar yang paling
terkenal adalah perahu bercadik, yang disebut Korakora. Ciri pertahanan dari
kerajaan Makasar adalah adanya benteng-benteng pertahanan. Sampai sekarang di
Makasar masih terdapat benteng-benteng pertahanan, yaitu benteng Sombaopu dan
View Rotterdam. Jadi, aspek kehidupan budaya rakyat Makassar lebih bersifat
agraris dan bahari.
8. Kerajaan Ternate dan Tidore Pengaruh agama dan budaya Islam di Maluku
(Ternate dan Tidore) belum meluas ke seluruh daerah. Sebabnya, masih banyak
rakyat Maluku yang mempertahankan kepercayaan nenek moyangnya. Hal tersebut
terbukti dari bekas peninggalan-peninggalannya, yakni masjid, buku-buku tentang
Islam, makam-makam yang berpolakan Islam yang ada di Maluku tidak begitu banyak
jumlahnya. Dengan kata lain hasil-hasil kebudayaan rakyat Maluku merupakan
campuran antara budaya Islam dan pra Islam.