BAB 4
QANA’AH DAN TASAMUH
A.
Pengertian Qanaah dan Tasamuh
1. Pengertian Qanaah
Sebagai makhluk sosial, kehidupan manusia
tidak bisa dilepaskan dari manusia yang lain. Kita tidak bisa hidup sesuka hati
kita sendiri. Kita juga harus memikirkan kepentingan dan kenyamanan orang lain.
Untuk menciptakan kehidupan yang rukun, perilaku qanaah dan hidup tasamuh
sangat diperlukan. Qanaah menurut bahasa artinya merasa cukup. Sedangkan
menurut istilah artinya merasa cukup atas pemberian dari Allah swt. setelah
berusaha dan berdoa. Jika merasa qanaah kita akan selalu bisa mensyukuri nikmat
yang diberikan oleh Allah swt. Orang yang qanaah akan dikarunai batin yang
tentram dan selalu berpikir positif. Bagi mereka, ukuran kekayaan tidak
ditentukan oleh seberapa banyak harta yang dipunyai. Akan tetapi lebih pada
bentuk rasa bersyukur atas apapun pemberian Allah swt. Kaya harta bukan utama,
tapi kaya hati adalah segalanya. Sabda Rasulullah saw.:
Artinya: “Bukanlah kekayaan itu karena
banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kekayaan hati/jiwa.” (H.R.
al-Bukhari/5965; Muslim 1741).
Dari hadis di atas secara jelas diketahui
bahwa ukuran kebahagiaan bukanlah ditentukan oleh jumlah kekayaan yang dipunyai
oleh seorang manusia lebih pada kelapangan hati dan rasa syukur atas nikmat
yang diberikan oleh Allah swt. Sabda Rasulullah saw.:
Artinya: “Dari Abdullah bin Amr,
sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Sungguh beruntung orang yang beragama
Islam dan dicukupkan rejekinya, kemudian merasa cukup dengan apa yang diberikan
oleh Allah kepadanya.” (H.R.
Muslim/1746).
2. Pengertian Tasamuh
Tasamuh menurut artinya adalah tenggang rasa.
Sedangkan menurut istilah artinya adalah saling menghormati dan menghargai
antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Manusia tidak bisa hidup sendiri.
Dalam segala bentuknya, manusia selalu membutuhkan keberadaan manusia lain
untuk memenuhi keperluan hidupnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, baik atau
tidaknya kualitas hidup kita sangat ditentukan oleh diri kita sendiri. Apabila
kita selalu berperilaku terpuji, maka akan terpancar kualitas yang baik dari
diri kita. Demikian juga sebaliknya, apabila kita hanya berbuat kejahatan, maka
kita pun akan dikenal sebagai orang yang tidak baik. Ketika bergaul dengan
orang lain, dapat timbul permasalahan dalam segala bentuknya. Sifat orang yang
berbeda-beda dapat menimbulkan benturan-benturan kepentingan. Akibatnya, bisa
mengganggu hubungan kita dengan orang lain.
Untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman
yang lebih besar, sifat tasamuh atau tenggang rasa sangat diperlukan. Apabila
kita mempunyai sifat tenggang rasa, maka kita tidak akan mengedepankan emosi
dalam menyelesaikan persoalan. Orang dengan sifat tasamuh akan mempunyai hati
yang lembut dan penuh pengertian. Rasulullah saw. bersabda: Artinya: “Jadilah
kamu hamba Allah yang bersaudara.” (H.R. Muslim).
Dalam hadis tersebut Rasulullah saw.
menyerukan tentang pentingnya hidup berdampingan secara rukun layaknya saudara.
Dengan bersikap tasamuh maka kita akan mempunyai teman dan saudara yang banyak.
Karena orang dengan jiwa tasamuh akan senantiasa memancarkan pesona teduh dan
jauh dari kesan-kesan jahat.
B. Berperilaku Qanaah dan Tasamuh
Berperilaku qanaah dan tasamuh merupakan tindakan terpuji. Kita wajib
melaksanakannya di setiap waktu dan tempat.
1. Berperilaku Qanaah
Merasa cukup dalam hidup di dunia ini sangat
perlu sekali agar bisa meraih bahagia dunia akhirat. Penerapan qanaah dalam
kehidupan sehari-hari, yaitu sebagai berikut:
a. Ketika berada di rumah, qanaah dalam hal kebutuhan makan, kebutuhan sandang
dan pangan.
b. Ketika berada di sekolah qanaah dalam hal peralatan sekolah, seragam
sekolah, dan biaya sekolah.
c. Ketika di masyarakat qanaah dalam hal berbicara, bekerjasama dan
bermusyawarah.
2. Berperilaku Tasamuh
a. Terhadap sesama teman Bertasamuh tidak pilih kasih, dilakukan dengan tidak
membeda-bedakan pangkat, jabatan, dan kekayaan.
b. Terhadap sesama pemeluk agama Islam Sebagai orang Islam, kita hendaknya
meniru perilaku tasamuh yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Segala gerak dan
tingkah laku kita sejak bangun tidur hingga kembali lagi tidur, sepenuhnya
hendaknya seperti apa yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw. Bahkan apabila
terjadi perbedaan pendapat, tidak langsung dijadikan alasan untuk tidak
bertasamuh.
c. Terhadap non muslim Umat Islam adalah sebaik-baik umat yang diciptakan oleh
Allah swt. Untuk itu dalam pergaulan kita hendaknya bersikap sesuai dengan
tuntutan agama agar bisa dijadikan contoh bagi umat yang lain. Terhadap umat
yang tidak satu keyakinan dengan kita, kita tetap harus bersikap tasamuh. Akan
menyakiti hati nabi, jika orang Islam menyakiti umat non muslim.
Sejalan dengan tri kerukunan antarumat beragama yang selama ini digalakkan
oleh pemerintah, yaitu:
·
Rukun antarumat beragama.
·
Rukun antarumat berlainan agama.
·
Rukun antarumat beragama dengan pemerintah.
3. Fungsi tasamuh
Segala sesuatu yang bersumber dari ajaran
agama mengandung kebaikan atau hikmah maupun fungsi. Sabda Rasulullah saw.: Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah bersabda: Siapa yang membantu
menghilangkan kesulitan orang mukmin satu kesulitan di dunia, niscaya Allah
akan menghilangkan kesulitan dia dari kesulitan pada hari kiamat. Dan barang
siapa yang memberikan kemudahan kepada orang yang menghadapi kesulitan, Allah
akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan di akhirat.” (H.R.
Muslim/4867).
Hadis di atas menerangkan bahwa apabila kita
ingin menghilangkan kesulitan yang dihadapi, hendaknya kita melakukan sesuatu
yang bisa menghilangkan kesulitan orang lain terlebih dahulu. Apabila ingin
memudahkan semua urusan kita, maka kita harus memudahkan urusan yang dihadapi
orang lain terlebih dahulu. Secara garis besar, fungsi tasamuh adalah sebagai
berikut:
a. Banyak saudara
b. Urusan yang dihadapi menjadi lebih mudah
c. Kesulitan yang dihadapi bisa diatasi
d. Suasana dengan teman menjadi akrab layaknya sebuah keluarga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar